SEBATANG KUAS DAN DUA TANGAN YANG HILANG
Karya : Dimas Ridwan Maulana
Di tengah keramaian
kota penuh dengan polutan yang sedikit menyesakkan dada, orang-orang berlalu
lalang untuk melakukan aktivitasnya yang di anggap penting bagi kelangsungan
hidupnya. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, ada yang berdampingan dan ada
juga yang kesepian. Anak-anak kecil bermain kejar-kejaran, ada juga yang diam
duduk-duduk di tepi jalan,semuanya memiliki keasyikan tersendiri. Di arah barat
terdapat sekumpulan orang yang sedang melihat acara festival kesenian yang
jarang terjadi di kota itu, terlihat sepintas terdapat anak muda mengenakan
pakaian putih sedikit lusuh termakan oleh waktu, anak sebatang kara itu
terlahir dengan keadaan cacat fisik, kedua tangannya tak terlihat oleh
keramaian orang yang ada di sekitar tempat itu, ia hanya memiliki kedua kaki
yang menjadi sumber segala aktivitas baginya,ia tersenyum manis kepada seniman
yang sedang melukis di tepi jalan yang penuh dengan karya lukisannya yang
menakjubkan, semua orang kagum dengan hasil buatannya. Hal semacam itulah yang
membuat anak muda itu tertarik ingin mempelajari jenis seni rupa itu. Hari
mulai malam, menghitam dan semakin hitam mengubah jagat raya ini dengan kegelapan
yang mulai menyelimuti cahaya abadi, semua kembali pada habitatnya tersendiri.
Paras pagi terasa
dingin, butiran embun hinggap di dedaunan beraurasegar, tiupan angin membelai kulit
yang tipis sedikit memutih dan semakin putih, anak burung berterbangan
mengelilingi angkasa raya, sang surya masih malu-malu menampakan dirinya di
balik awan yang putih. Anak muda bernama Sukma itu muncul di balik perumahan
yang penuh dengan berbagai tanaman hias, bunganya begitu semerbak di hiasi
dengan berbagai warna,aromanya tercium dari kejauhan, ia melangkahkan kakinya
menuju tepat mengail ilmu yang tak jauh dari rumahnya, barang bawaannya cukup
membebani tubuhnya yang tergantung di kedua bahu.Selepas sekolah Sukma biasa
menyendiri seorang diri di ruangan kesenian, ia memulai pembelajaran seni rupa
dengan membawa 1 buah batang kuas dan cat serta pelengkapan yang lainya.Ia
memulai penggoreskan imajinasi di atas selembar kertas yang putih dengan kedua
kakinya.
“Sukma, apa yang sedang kau kerjakan?” kedatangan sekelompok pria
mengenakan pakaian serba hitam di arah yang berlawanan.
“Entahlah, saya ingin membuat sesuatu yang bermakna melalui
lukisan!”ucapnya “Hmm!…meskipun katak tergolong makhluk Amfibi, bebek berenang
di atas air, tapi kau tak mungkin melakukan itu, coba lihat dirimu kau telah kehilangan kedua tanganmu dan
sekarang kau melakukan hal yang sia-sia hanya mengotori, merusak lantai yang
putih menjadi goresan cat tak bermakna. Coba gunakan akal pikiran yang kau
miliki!”ucap keras salah satu dari mereka sambil menggerakan jari telunjuknya
ke arah sukma seperti orang berpidato di
depan public.
“Satu saran yang akan saya lontarkan padamu adalah belajarlah yang
lain”.sambil beranjak pergi dan tertawa pelan
meninggalkan Sukma yang murung dan putus asa.
Sukma terdiam, dia hanya dapat menatap sebatang kuas dan menerima
perkataan para pria itu, dia berpikir hal semacam itu memang sulit di lakukan,
kuas yang mengapit pada kakinyaitu terdampar di atas lembaran kosong tak
berarti, serasa jiwa telah rapuh di rasuki aura yang mengecewakan, air mata
mulai membasahi wajahnya yang sedikit pucat, ia pun segera meninggalkan tempat
itu dengan perasaan sedih.
Di tengah perjalanan Sukma biasanya pergi ke tempat dimana para
seniman lukis selalu memamerkan karyanya, di sana memang selalu di penuhi para
penggemar lukisan yang sedang melihat seniman itu menjatuhkan imajinasinya ke
kain kanvas. Sukma hanya dapat berdiri terpaku di belakang penonton yang cukup
banyak, ada yang terhimpit ada juga yang duduk dekat dengan seniman itu. yang
di dengar anak muda itu hanya suara perbincangan pelan penonton yang mengganggu
ketenangan disana. Tak lama kemudian, seniman itu menyelesaikan karyanya yang
dapat membuat kekaguman pada psikologis seseorang, semuanya mengandung nilai
seni yang bagus.parapenonton satu demi satu hilang dan mulai beraktivitas
seperti biasanya. Sukma kagum dengan hasilnya, dia hanya berdiri di depan
seniman tanpa berkata apa-apa.
“Anak muda, apakah kau masih melukis?” ucap seniman itu sambal
merapikan alat lukisnya, sukma terhentak dari mana dia tahu bahwa dirinya itu
selalu ingin melukis. Tak ada respon yang pasti, “Emm..disini ada tempat duduk
yang kosong….mari kita pergunakan dan memulai pembicaraan”.lanjutnya sambil
memandang kursi coklat yang kesepian.
“Pak..! kenapa aku berbeda dengan yang lain?” ucap sukma sedikit
pesimis, raut wajahnya memperihatinkan, air tiba-tiba keluar di kedua sisi
kelopak mata dan membasahi wajahnya.
“Kenapa? Apakah kita harus sama dengan yang lain?”. Balas pertanyaan
dengan hal yang sama. Sukma hanya terdiam.
“Seni,adalah sesuatu yang dapat di rasakan melalui berbagai aspek
kehidupan, menimbulkan kekaguman pada diri seseorang, dengan menghayati setiap
goresannya maka kau akan dapat kepuasan pada dirimu, Allah tak memandang seseorang
dari penampilan tapi ia memandang seseorang dari prilaku yang di lakukannya,
setiap jerih payah yang dilakukan berupa kesugguhan,maka semua akan terwujud. Tapi,
kita sering berpikir hal yang kita lakukan mustahil di lakukan. Oleh sebab itu,
kau jangan merasa lemah dan janganlah bersedih hati, sebab kaulah yang paling
tinggi derajatnya jika kau orang beriman.” Ucap seorang seniman itu, perkataannya
seakan-akan memberikan apa yang arti sebuah kehidupan yang sesungguhnya.
Berawal dari situlah Sukma melakukan pelatihan melukis dengan
semangat, pikirannya seakan-akan terbuka dengan nasehat yang di lontarkan oleh
seniman ternama itu.Dia bisa belajar banyak hal, banyak pengalaman yang iadapat
dari seniman itu. Sekarang, meski fisiknya tidak sempurna, tapi iabisa
menjalani hidup dengan senang,hinaan serta celaan tidak akan di hiraukannya
lagi, mulai sekarang segala sesuatu ia serahkan kepada Allah.
Hari begitu cepat
berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, itulah
yang di namakan siklus kehidupan. Sukma berdiri terpaku di depan papan yang di
beri nama Wall Magazine, biasa di katakan juga sebuah mading, entah apa yang
sebenarnya ia perhatikan, sebuah lembaran kertas dengan design indah tertempel
di sana,sebuah ajakan untuk mengikuti perlombaan seni di tingkat Nasional,membuat
ia tergiur untuk menjadi salah satu peserta di bidang seni lukis.
“Jangan harap kau menjadi peserta, kau hanya akan membuat sekolah
kita menjadi nama buruk di kalangan masyarakat, lagipula mana mungkin anak
cacat kaya dia ikut serta!” terdengar suara di belakang Sukma, dilihatnya
sekelompok pria yang sebelumnya telah berkata yang cukup pedas.
Sukma terdiam sejenak, dan meninggalkan tempat itu di barengi suara
ketawa yang merupakan ejekan pada dirinya. Begitulah keseharian ia ketika
berada di sekolah, tak jauh dari hinaan serta rasa sakit yang ia terima. Sukma
pergi ke tempat dimana di sanalah ia dapat merangkul ilmu lukisnya. Ia hanya
dapat menjepitkan kuas itu dengan kedua kakinya.
“Hah…sulit !” ucapnya sedikit kesal
“Jangan putus asa, coba dan cobalah pasti kau akan berhasil, mesti
kondisi fisikmu tak sempurna, pasti di balik itu ada kelebihannya!” ucap
seniman itu sambil memberikan contoh goresan lukisnya.
Awal bertemu dengan seniman itu, bagai sinar yang terpancar pada
lubuk hatinya, setiap perkataannya tak ada yang tiada bermakna, semuanya
memberikan arti sebuah kehidupan yan sesungguhnya. Sukma dengan sungguh-sungguh
mempelajari seni lukis itu dengan kakinya, sungguh mengesankan, dengan kecacatannya
yang begitu tampak, tapi, dia memiliki gairah yang kuat dalam menciptakan suatu
karya yang bergitu bernilai di mata masyarakat.
Begitu cepat Sukma mempelajari ilmu itu, dalam jangka waktu
beberapa hari saja,ia mulai mahir dalam memainkan kuas tertempelkan cat itu.
“Sukma!, dengan keuletan dan kegigihanmu dalam mempelajarinya,
sekarang kau dapat memeluk ilmuku.” Ucap seniman itu dengan senyuman senang
pada anak didiknya itu.
“Terima kasih pak…! Ini semua berkat bantuan dan kesabaran bapak
dalam mendidk saya!".Ucap Sukma terus terang.Keduanya bagai anak dan
malaikat yang selalu mengerti perasaan dirinya.
Sukma senang dan bersyukur bisa melalui masa-masa pahitnya dengan
keberhasilan ia mencapai keinginannya dalam melukis. Tapi siapa sangka, Allah
kembali mengujinya dengan musibah yang jauh lebih besar. Seniman itu secara
tiba-tiba rapuh terjatuh tak berdaya, entah apa yang sebenarnya yang di alami
seniman itu, Sukma bimbang perasaanya mulai panik melihat kondisi seniman itu pucat
pasi, putih dan semakin memutih, ia hanya dapat berteriak histeris meminta
orang-orang dapat menolongnya. Sukma berusaha untuk tidak menjatuhkan air yang
membawa kesedihan.
Ia duduk di samping seniman itu. Muncullah seorang wanita berpakain
serba putih membawa secarik kertas.Ia menjulurkan tangannya dan memberikan
kertas yang di anggap penting.
“Apa ini Suster?”. Ucap Sukma sedikit kebingungan
“Ini pembayaran perawatan Bapak anda, Bapak anda perlu perawatan
yang khusus karena penyakit kanker yang di alami bapak ini cukup parah dan
dokter memberikan rekomendasi untuk
melakukan operasi”.
“Inna lilahi….!” Ucap Sukma sambil meneteskan air mata.
Menunggu hal yang sia-sia, menghabiskan waktu, tak ada gunanya, sukma
hanya dapat memandang histeris kepada seniman yang tergeletak di atas kasur,Begitu
berat menerima kenyataan ini. Kadang ia berharap ini hanya sebuah mimpi, memang
Kehidupan itu sungguh suatu misteri.Tak lama kemudian ia bangkit berdiri dan
beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan seniman seorang diri. Ia
menyelusuri malam yang sunyi, angin sepoi-sepoi menyerang tubuh Sukma yang
lemas, ia berdiri menatap langit yang bertabur bintang, rasanya tak ada yang
penting bagi ia sekarang, pikirannya mulai cerah, ia
teringat kontes melukis yang terpangpang di Mading hari lalu, apa boleh buat,
satu-satunya cara agar dapat membantu pembiayaan Operasi seniman itu.
Keesokan harinya, ia siap-siap untuk mengikuti kontes melukis, dan
ia terlihat begitu riang, tempatnya tak begitu jauh dari sekolah, ia hanya membutuhkan tenaga ringan untuk sampai ke
tujuan. Para peserta begitu berdesakkan mengikuti kontes tersebut, ada yang
tua, muda, anak-anak semuanya tak memandang usia. Sukma berpikir mungkin
dirinya tak akan memenangkan kontes ini, bayangkan saja dalam mengikuti kontes,
ia hanya membawa 3 batang kuas yang sudah sedikit tua dan 5 cat warna dasar. Tapi dari lubuk hati yang dalam ia selalu
mengatakan “Janganlah lemah dan jangan pula merasa sedih hati, karena dirimulah
yang paling tinggi derajatnya bila kau orang beriman”. Kata-kata itu selalu
hadir disaat sifat pesimis mulai tampak pada dirinya.
“Selanjutnya..!”.terdengar suara di tempat pendaftaran.” Sebutkan
identitas Anda!”lanjut petugas pendaftaran.
Semua peserta memasuki ruangan yang cukup luas, disana tertata meja
dan kursi yang disimpan rapi. Semuanya diperintahkan memilih tempat yang diinginkan.
Sukma merasa bingung, bagaimana ia bisa melukis di atas meja dengan kondisi
tubuh yang cacat, tiba-tiba terdengar suara gong di dalam ruangan itu tanda
bahwa kontes telah di mulai. Sukma tanpa berpikir panjang, ia langsung duduk di
lantai untuk mulai melukis. Semua peserta dan penonton tercengang saat melihat
aksi Sukma melukis dengan kedua kakinya, begitu luar biasa bukan!. Beberapa jam
telah berlalu, saatnya gong terdengar lagi sebagai isyarat bahwa kontes telah
selesai. Dengan bercucuran keringat, Sukma menebarkan senyuman pada hasil
karyanya, bagai ikan yang menemukan air di kolam.
“Semua peserta!..letakan hasil lukis kalian di depan panggung yang
sudah kami sediakan, dan jangan lupa cantumkan identitanya!”. Ucap panitia di
atas panggung dengan alat pengeras yang ia gengam.
Setelah itu, Sukma duduk di balik panggung dengan yang lainnya untuk
menunggu hasil penilaian juri. Tak lama menunggu, panitia sudah berkicau
kembali di hadapan penonton.
“Baiklah, hasil penilaian dari para juri semua karya ini sungguh
menakjubkan, tapi akan kami tentukan pemenang yang unggulan dan akan mendapat
gelar pelukis professional di negara kita, baiklah pemenangnya ialah?” berhenti
sejenak, pandangan terpusat pada pembawa acara itu. “SUKMA……..!”. Ucap ia
keras. Semua terhentak, anak muda yang dilahirkan cacat fisik itu, memenangkan
juara dalam bidang lukisnya, sungguh merupakan tragedi yang sangat langka.
Sukma bangkit
dengan hati berpancarkan cahaya yang putih, raut wajahnya menyenangkan,
perasaanya masih belum yakin atas takdir yang baru ia alami, sungguh kebahagiaan
yang tak terlupakan. Dia berdiri di atas panggung, jantungnya berdebar cepat
seperti akan menghadapi sesuatu yang rumit, bibirnya sedikit mengering dan
putih, entah apa yang harus ia lakukan di tempat yang sedangia pijak. Semuanya
bertepuk tangan dengan gemuruh tak henti. Juri menyerahkan piala dan medali
emas kepada sukma serta uang sebesar 50 juta rupiah. Di arah barat, Sukma
melihat seseorang yang melambaikan tangannya, siapa- kah iasebenarnya?
Tatapannya terpusat pada hal itu, ia melangkahkan kakinya menuju orang itu. Tak
disadari seniman yang terdampar di rumah sakit itu, sekarang ada di hadapannya.
“Pak seniman! Bagaimana bisa?bukankah pak seniman harus ada di
rumah sakit?” ucap sukma kebingungan.
“Aku bermimpi,dalam mimpiku aku betemu dengan orang yang cacat, ia
tak memiliki tangan dan harta benda, ia terlihat lusuh. Tiba-tiba saya melihat
cahaya terang di depan anak itu, sehingga aku pun tak dapat melihatnya. Di
sanalah aku terbangun dan berusaha mencarimu, Nak !”.Ucap seniman gembira
sambil memeluk Sukma.
“Terima Kasih Guru!”. Ucap Sukma terharu. Suara gemuruh dari tepuk
tangan masih terdengar ramai.
(THE END)
“Janganlah lemah dan jangan pula bersedih hati karena kaulah yang
paling tinggi derajatnya, jika kau orang yang beriman”. ( Ali Imron :139 )

0 komentar:
Posting Komentar