Sebatang Kuas
Karya: Dimas
Ridwan Maulana
Suasana
kota penuh dengan aroma polusi yang terasa menyesakkan pikiran dan perasaan,
langit kota keruh oleh asap-asap pabrik dan udara kota pun kotor oleh asap-asap
knalpot kendaraan, rasanya itu sudah menjadi makanan sehari-hari para penghuni
kota. Di sepanjang jalan orang-orang berlalu lalang menjalani kehidupannya,
mereka masing-masing memiliki dunianya sendiri. Di antaranya di trotoar jalan
ada seorang kakek dan seorang nenek sedang mengemis, mereka di sana duduk dengan
sabar menanti seseorang yang lewat memberinya beberapa keping uang. Oh...
Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan. Lalu di lampu merah ada anak-anak
jalanan sedang mengamen, menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang lirih.‘’Di jalanan kami sandarkan cita-cita, sebab
di rumah sudah tidak ada lagi yang bisa dipercaya, orang tua pandanglah kami
sebagai manusia, kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta.” Seru mereka
!Mendengar nyanyian mereka yang bernada haru biru terasa menggetarkan hati
nurani. Kemudian di pinggiran jalan ada pelukis jalanan sedang melukis wajah
kota yang suram, di samping pelukis itu tampak seorang anak kecil berpakaian
lusuh tengah berdiri memandang lukisan tersebut dengan mata terpana, ia merasa
takjub oleh lukisan yang indah itu dan terus memandanginya, seolah tidak peduli
dengan suasana kota yang carut marut di sekeliling dirinya.
“Bapak
pelukis, melihat lukisanmu indah sekali, membuat mataku terpesona. Rasanya aku
ingin menjadi pelukis, agar aku bisa melukis lembaran hidupku penuh dengan
warna-warna yang indah, seperti indahnya
lukisanmu itu. Apakah aku bisa menjadi seorang pelukis?” Tiba-tiba anak itu
bertanya kepadanya.
Mendengar
ada suara lugu yang menyapa padanya, ia melirik ke arah tempat anak kecil itu
yang tengah berdiri khusyuk sedang menatap lukisannya, kemudian ia pun
tersenyum dan menjawabnya. “Tentu saja nak...Asalkan memiliki niat mau belajar
siapa pun bisa menjadi pelukis dan jika kamu mau, kamu bisa menjadi seorang
pelukis !”
“Tapi
pak, tidakkah kau lihat diriku ini, aku tidak memiliki kedua tangan.” Sahutnya
dengan irama suara yang sedih.
Seketika
ia hatinya tersentak dan ia pun matanya tebelalak ketika melihatsekujur
tubuhnya, ia baru sadar kalau anak malang itu tidak memiliki kedua tangan.
Sesaat ia menghela nafas , kemudian ia berusaha menghibur perasaan anak itu.
“Nak,
jangan berkecil hati. Percayalah, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin,
jika kita berusaha keras, apa yang kita impiankan pasti dapat terwujud.”
Mendengar
perkataan yang murah hati dari seorang pelukis itu, si anak kecil tersebut yang
semula hatinya merasa layu karena putus asa, seketika berubah menjadi
berbunga-bunga, rasanya isi hatinya terasa cerah dipenuhi oleh cahaya harapan. Dengan
nada suara penuh perasaan gembira, si anak kecil berucap kepada si pelukis. “Kalau
begitu bersediakah membantu mewujudkan impianku menjadi seorang pelukis?”
“Tentu
saja nak ! Oh iya... Kalau boleh tahu siapa namamu dan dimana tempat
tinggalmu?”
“Namaku
Sukma, aku adalah seorang anak jalanan, hidupku sebatang kara dan aku tinggal
di bawah jembatan layang, di sanalah rumahku.”
“Hmm....
Baiklah, besok saat matahari terbit datanglah kemari, aku akan menunjukkan
padamu dunia seni lukis, sampai jumpa esok hari, sobat kecil.”
***
Saat
matahari membuka kelopak matanya, Sukma pun segera membuka kedua matanya,
beranjak dari tempat tidurnya yang beralaskan tanah dan menyingkapkan
selimutnya yang terbuat dari karung goni, kemudian ia bergegas untuk mandi di sungai
yang letaknya di seberang jembatan layang. Setelah itu sukma berangkat
melangkahkan kaki menuju tempat pelukis yang ia temui kemarin. Hari ini adalah
hari yang paling membahagiakan dalam sejarah hidupnya, karena sekarang ia telah
membuka lembaran hidup yang baru, menjalani hidup dengan memiliki sebuah
cita-cita dan impian, yaitu menjadi seniman lukis sejati. Kini ia tidak lagi
seperti kehidupannya dulu, menjalani hari-hari hidupnya sebagai seorang anak
jalanan yang mengemis di lampu merah. Bagi dirinya hidup tanpa memiliki
cita-cita dan impian, adalah sebuahkehidupan yang suram dan tidak memiliki masa
depan hidup yang cerah.
Di
tengah perjalanan Sukma bertemu dengan teman-teman sesama anak jalanan yang
berprofesi sebagai pengamen, mereka menyapa Sukma. “Kawan apa kabar? Apakah kau
hari ini akan mengemis dan ikut kami mengamen di lampu merah?” Tanya mereka
kepadanya.
“Kabarku
baik, semoga kabar kalian juga baik, kawan ! Mulai hari ini sepertinya aku akan
berhenti mengemis di jalanan selamanya, tapi tenang saja aku akan tetap
menemani kalian mengamen, kawanku.”
“Kenapa?
Teman-temannya dengan serempak bertanya, mereka satu sama lain saling
melirik penuh tanya. Lalu salah satu
dari mereka dengan perasaan bertanya-tanya, berkata kepada sukma. “Kalau kau
berhenti mengemis di jalanan, lalu darimana kau akan mendapatkan uang untuk
makan sehari-hari?”
Mendengar
pertanyaan dari temannya itu Sukma tiba-tiba terdiam dan jidatnya terlihat
berkerut kening, ia berpikir apa jadinya nasibnya nanti, dari mana ia bisa
makan untuk hidupnya sehari-hari, jika ia harus meninggalkan pekerjaan yang
sudah menjadi sumber penghidupannya. Setelah merenung sejenak, ia pun menjawab
pertanyaan temannya.
“Entahlah,
Alasanku ingin meninggalkan kehidupanku sebagai seorang pengemis, karena aku
ingin mencari jalan hidup yang lebih baik lagi. Aku merasa sudah lelah dan
jenuh menjadi seorang pengemis yang hidupnya bergantung kepada rasa belas kasihan
orang lain. Kini aku ingin hidup berdiri di atas kaki sendiri. Walaupun tidak
menjadi pengemis lagi, aku harus yakin bisa mencari uang dari manapun dan
dengan cara apa pun.”
“Lalu
apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya temannya yang lain.
“Aku
sekarang memutuskan ingin menjadi seorang pelukis, mulai hari ini aku akan
belajar melukis kepada pelukis yang bertempat di pusat kotadan aku pikir aku
akan sekalian ikut bekerja dengannya”
“Kalau
begitu semoga sukses, kawan! Apapun pilihan hidupmu kami akan mendukungmu dan
mendoakanmu, asalkan itu yang terbaik untuk hidupmu.” Ucap teman-temannya.
***
Dan
Sukma pun melanjutkan perjalanannya. Kemudian sesampainya di tempat tujuan,Ia melihat
pelukis itu sedang menikmati aktivitas melukisnya.
“Salam,
selamat pagi!” Sapa Sukma.
“Salam,
selamat pagi juga, nak!” jawab pelukis itu sambil mengarahkan pandangannya
kepada Sukma. “Hai.... Sukma, apakah kau sudah siap untuk mempelajari dunia
seni lukis?”
“Tentu,
aku sudah siap.” Tegas Sukma, menjawab dengan penuh semangat.
***
Hari itu adalah pengalaman pertama Sukma belajarmelukis, sebelum
memulai belajar melukis, si pelukis menguji kesungguhan Sukma dengan memberikan
sebuah pertanyaan.
“Nak, apakah kau sungguh ingin melukis, lalu bagaimana kau akan
melukis tanpa tanganmu?”
“Tekadku sudah bulat, aku sungguh ingin melukis dan ingin menjadi
pelukis. Ketika aku tidak memiliki tangan, aku akan melukis menggunakan kakiku,
dan seandainya aku tidak memiliki kaki, aku akan melukis menggunakan mulutku.
Seperti apa pun keadaannya, aku akan melukis dengan sisa anggota tubuh pada
diriku yang masih dapat kupergunakan.”
“Baiklah... aku percaya padamu dan aku kagum pada kesungguhan
hatimu. Kemari, nak. Mari kita mulai latihan melukis.”
Kemudian sang pelukis memberikan sebatang kuas, sebuah kanvas, dan
cat lukis kepada sukma. Melihat peralatan lukis yang tersedia di hadapan
matanya, iamerasa terkesima, sempat terbersit di pikirannya, apakah dirinya
bisa melakukannya. Ia termenung di depan kanvas, sambil menggenggam sebatang
kuas di jari kakinya sebelah kanan dan di sebelah kiri jari kakinya menggenggam
nampan cat lukis. Ia melamun, sembari berpikir kebingungan, apa yang harus ia
lukiskan di selembar kanvas. Maklum itu adalah pengalaman pertama dalam
hidupnya.
“Kenapa kau melamun, nak? Gunakanlah imajinasimu, lihatlah ke arah
sekelilingmu dan carilah inspirasi. Renungi dan resapi, lalu kau tuangkan ide
indahmu di sehampar kanvas putih itu yang menanti kau warnai, dengan goresan warna-warna
kehidupan yang indah.”
Mendengar petuah kata-kata yang diucapkan oleh sang pelukis, Sukma mulai
menuangkan imajinasinya yang terbit dari pikirannya. Batang kuas mulai ia apit
di celah-celah jari kakinya, mata pikirannya seakan terbuka dan berkembang bagai
kuncup bunga yang tersiram oleh air yang sejuk. Setiap goresan ia resapi dengan
sepenuh hati.Butiran keringat tak terasa berguguran membasahi wajahnya yang
penuh keseriusan, pandangan matanya terpusat sepenuhnya pada paras kanvas yang
sudah dipenuhi dengan coretan-coretan imajinasinya.
Hari pun tak terasa begitu cepat berlalu, detik demi detik, menit
demi menit, dan jam demi jam. Hingga hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun
demi tahun. Sepanjang waktu tak dirasa olehnya, ia lalui setiap harinya dengan melukis,
bayangkan saja setiap saat bakat seninya terus menerus diasah hingga setajam
pisau. Karya-karya lukisannya pun tanpa disadari sudah terkumpul banyak, tak
terhitung jari. Di antara salah satu karya lukisannnya, terdapat lukisan yang
membuat mata hati sang pelukis terpana, yaitu sebuah gambar sesosok diri Sukma yang
memiliki kedua tangan sedang menggenggam sebatang kuas, sembari tersenyum
bahagia menatap dunia. Rasanya siapa pun yang melihat lukisan itu, akan merasa
terkesan dan merasa terlena, karena aura lukisan tersebut membuat siapapun yang
melihatnya, bergetar hatinya.
***
Sekian lama Sukma mempelajari ilmu lukis selama ini dengan cerih
payahnya, tanpa kenalrasa lelah. dan sekarangakhirnya ia dapat menjadi seorang pelukis
yang handal. Sungguh merupakan suatu bakat yang luar biasa, Seorang Sukma yang
memiliki keterbatasan, namun ia melawan keterbatasannya dan bisa menjadi
seseorang yang berarti karena ia berkarya.
“Sukma… Dengan ketekunanmu dan kegigihanmu selama ini mempelajari
ilmu melukis, akhirnya sekarang kau sudah menguasainya dan menjiwainya dengan
baik.” Ungkap sang pelukis dengan perasaan bahagia dan haru kepada anak
didiknya.
“Aku ucapkan rasa terima kasih padamu Bapak pelukis…! Ini semua
berkat ajaran dan kesabaran bapak dalam mendidk saya!" Ucap Sukma,
mengungkapkan curahan hatinya. Keduanya terlihat layaknya seorang anak dan ayah
yang saling mencurahkan isi perasaannya.Sukmahatinya merasa bahagia dan
bersyukur bisa melalui masa-masa hidupnya yang pahit dengan sebuah keberhasilan
yang telah ia capai saat ini.
Tiba-tiba di tengah pembicaraan, sang pelukis terbatuk-batuk,
kemudian nafasnyasesak dan akhirnya terjatuh tak berdaya di atas tanah.Sukma
pun histeris melihat kejadian itu, seketika perasaannya panik melihat keadaan
sang pelukis wajahnya pucat pasi, perlahan-lahan wajahnya memutih dan terus
semakin memutih, ia berteriak histeris, lalu segera berlari meminta pertolongan
kepada orang-orang yang ada di sekitar. Sukma hatinya menjerit dan tak
henti-henti meneteskan air mata.
***.
Di teras rumah sakit Sukma terduduk lesu, tak lama kemudian muncul
seorang wanita berpakaian putih menghampirinya. Ia menjulurkan tangannya dan
menggenggam erat-erat tangan Sukma.
“Bagaimana keadaan bapakku?” Tanya Sukma penuh kekhawatiran.
“Kami mohon maaf ! nyawa bapak anda tidak terselamatkan, karena
serangan penyakit jantung. Kami turut berduka cita, sabar ya, nak!”
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…!” Ucap Sukma dengan suara
yang terisak.Begitu berat dirinya harus menerima kenyataan yang menyakitkan
ini.
***
Di hadapan kuburan sang pelukis, Sukma kepalanya tertunduk sedih
mengheningkan cipta. Seusai berdoa dan menaburkan kembang, kemudian ia bangkit dan
beranjak pergi dari tanah pemakaman.rasanya jiwa hampa kehilangan seseorang
yang berharga dalam hidup.
Sepulang dari pemakaman, Sukma duduk termenung di tempat lapak
almarhum sang pelukis yang bertempat di pinggiran jalan pusat kota. Saat ia
sedang melamun membayangkan kenangan masa lalu, mengingat kenangan indah bersama
sang pelukis di tempat itu. Ketika matanya sedang memandang ke arah langit,
tiba-tiba matanya tertuju melihat sepanduk pengumuman festivalkontes seni
lukis, lalu ia pun tersenyum.
Keesokan harinya, ia berangkat mendaftarkan diri di gedung kesenian
kota, untuk ikut serta kontes seni lukis.
Beberapa waktu kemudian, seluruh peserta dari berbagai kota
memasuki ruangan gedung, disana tertata meja dan kursi yang tersimpan rapih.Tak
lama kemudian terdengar suara gong pertanda acara telah di mulai. Sukma tanpa
berpikir panjang, ia langsung mengambil posisi duduk di lantai untuk mulai
melukis. Di pertengahan waktu semua peserta dan penonton tiba-tiba matanya
terpaku ke arah Sukma, mereka tercengang saat melihat aksi ekspresi Sukma
melukis dengan kedua kakinya, begitu menakjubkan. Jam demi jam pun telah
berlalu, lalu gong berbunyi menandakan kontes lukis telah usai. Dengan
bercucuran keringat, Sukma meyelesaikan karya lukisannya.
Lalu Setelah itu, Sukma duduk di belakang panggung dengan peserta lainnya
untuk menunggu hasil penilaian juri. Tak lama kemudian, panitia mengumumkan
hasil kontes kepada peserta dan penonton.
“Perhatian-perhatian, hasil penilaian dari para juri semua karya
para pelukis sungguh mengagumkan, sekarang kami akan mengumumkan pemenang juara
satu dan ia akan mendapatkan gelar pelukis nasional, baiklah pemenangnya
ialah...sesaat berhenti sejenak, semua orang pandangannya terpusat pada pembawa
acara. Baiklah... Pemenangnya adalah... SUKMA....! Semua orang tercengang, menatap
seorang anak yang dipandang sebelah mata karena cacat fisik itu, ternyata
memenangkan juara kontes lukis festival kota.
Semua orang dalam
gedung bertepuk tangan, kemudian orang-orang berkerumun menghampiri Sukma, untuk
mengucapkan selamat atas prestasi karya lukisannya. Dan di balik kerumunan
orang-orang, Sukma melihat sang pelukis tengah berdiri menatapnya dan tersenyum
bahagia.
0 komentar:
Posting Komentar